Sebelumnya..
Saya harus menuliskan disini, bahwa menjadi atasan itu harus berani pasang badan untuk anak buahnya.
Harus berani mengambil tanggung jawab anak buahnya sekiranya anak buah harus ‘berhadapan’ dengan seseorang yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi.
Anak buah hanyalah mengerjakan tugas-tugas practical dan printilan-printilan, sementara jika sudah berhubungan dengan lobi-lobi ataupun beradu argumentasi something under the table, seharusnya pak atasan segera turun tangan.
Saya menjaga lisan saya untuk tidak misuh-misuhi pak atasan.
Pisuh-pisuhan dan makian, saya ungkapkan dalam hati saja:
Anjrooot, gue punya atasan kok peeee’a kayak gini..
Dhuwe atasan kok yo pekoooook koyok ngene yooooo yo..
Dengan kejadian tersebut seharusnya saya bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga selagi saya menjadi anak buah.
Saya jadi tau apa saja harapan anak buah terhadap atasannya, apa saja yang seharusnya dilakukan seorang atasan terhadap anak buahnya.
Dari ke-pekok-an dan ke-peeee’a–an pak atasan, sedikit banyak saya bisa menjadi tau bahwa menjadi atasan itu harus tegas dan berani mengambil keputusan.
Be-ra-ni mengambil keputusan.
Masalah keputusan itu benar atau tidak itu tidak penting, yang paling penting adalah keberanian mengambil keputusan.
Kalau jadi atasan tapi paah poooh, paaah poooh, dan gelenggam gelenggem seperti celengan bagong, ya gak bakalan dihargai oleh bawahannya.
Jadilah atasan yang berani mengambil keputusan, yang hajar aja bleeh..
Kemudian..
Saya ke tempat pak atasan menanyakan hal yang saya silang pendapatkan dengan seorang manager.
Pak atasan mulai mikir dan minta-minta masukan.
Saya kasih masukan pak atasan untuk begini begini begini dan begitu begitu begitu
Kemudian pak atasan juga urun pendapat begini begini begini
Saya tetap pada pendirian saya supaya pak atasan begitu begitu begituu..
Oke akhirnya begini begini begini aja deh, pak atasan berkompromi
‘terpaksa’ saya iya-kan saja, dan saya menunggu action dari pak atasan
Setelah itu..
Ternyata dengan berbicara langsung ataupun menyampaikan pendapat dan uneg-uneg, maka kebuntuan menjadi terurai, pisuh-pisuhan menjadi berkurang
Persis seperti seorang abege yang nembak cewek yang ditaksirnya,
rasanya mak plooong,
walaupun belum tentu diterima..
Persis seperti orang yang sedang puup,
rasanya mak plooong,
walaupun bau..
Itulah perlunya komunikasi..