untuk semua yg saya tidak tahu
|
dan utk semua yg saya tidak
tahu
|
dan mengapa yg saya tidak tahu
itu kemudian dilimpahkan menjadi tanggung jawab saya
|
dan mengapa tiba tiba saya yg
harus membantu utk menyelesaikannya
|
dan utk semua yg saya tidak
tahu
|
dan sampai kapan saya bisa utk
sekedar menanyakan hak yg akan saya dapatkan
dari semua yg saya tidak tahu yg tiba tiba menjadi tanggung jawab saya itu |
perasaan sungkan dan tidak enak
justru menghambat kemajuan sistem personalia
|
memang bisa menjadi keuntungan
bagi salah satu pihak
|
tetapi kalau ternyata ada pihak
lain di dalam satu organisasi yg merasa dirugikan,
justru yg terjadi adalah ketidakharmonisan di dalam suatu organisasi |
dan itu sudah cukup utk membuat
suatu organisasi akan menjadi mandeg atau tidak lancar jalan operasinya
|
ketegasan sikap dan rasa
tanggung jawab dan sikap terbuka dari masing masing individu di dalam
organisasi
akan mampu membuka kelemahan kelemahan yg perlu diperbaiki |
sikap sungkan dan rasa tidak
enak diri justru menutup peluang akan adanya perubahan pada kebaikan
|
Showing posts with label Serial Manajemen. Show all posts
Showing posts with label Serial Manajemen. Show all posts
Thursday, October 15, 2015
SERIAL MANAGEMEN : UNTUK SEMUA YANG SAYA TIDAK TAHU
Tuesday, December 2, 2014
MENYIASATI PEKERJAAN ADMINISTRASI YANG TIDAK PERNAH USAI
Administrative work is never ending proces.
Pekerjaaan administrasi itu tidak ada akhirnya, tidak akan pernah berakhir.
It’s true.
Apakah kamu pikir kalau kamu sudah support pak atasan, mengerjakan laporan ini itu ini itu dan sudah selesai semuanya, kemudian kamu tidak ada pekerjaan lagi yang harus diselesaikan?
Sama sekali tidak.
Karena ketika kamu mengerjakan laporan ini itu ini itu, kamu pasti menomorduakan pekerjaan yang lain dan pekerjaan yang lainnya lagi.
Ketika laporan ini itu ini itu sudah selesai, kemudian bermunculanlah pekerjaan-pekerjaan yang kemarin kamu nomor dua-kan, yang kamu pending atau tunda pengerjaannya.
Dan ketika pekerjaan yang kemarin tertunda sudah selesai dikerjakan, apakah berarti juga sudah selesai semua pekerjaan?
Tidak juga.
Karena bakalan ada pembuatan laporan yang lain.
Dan bahkan ketika tempat kamu kerja mau bangkrut mau gulung tikar mau tutup, justru malah pekerjaan administratif menjadi semakin banyak dan bejibun.
Mulai dari urusan surat menyurat dengan klien, dengan vendor.
Penyiapan laporan keuangan, laporan asset dan lain-lain.
Pekerjaan administratif akan benar-benar berakhir ketika kamu – sebagai administrator atau tenaga administrasi – keluar dari pekerjaan itu, mengundurkan diri, resign, atau kamu meninggal dunia.
Terus bagaimana caranya menyikapi pekerjaaan administrasi yang tak ada habisnya itu?
Caranya adalah dengan membuat skala prioritas, mana pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan mana yang bisa dinomor dua-kan.
Minimal membuat 5 poin skala prioritas dan harus konsisten serta patuh dengan skala prioritas tersebut.
Memang akan terasa sangat menjemukan, karena dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya adalah melakukan hal yang relatif sama.
Untuk mengatasi rasa kejemuan dan kejenuhan tersebut, diperlukan manajemen hati untuk mengelola perasaan jemu, jenuh dan bosan itu menjadi sesuatu yang tidak lagi terasa membosankan, atau minimal meng-eufemisme-kan kebosanan, mengganti kata kebosanan dengan kata yang lebih manis lainnya.
Bukankah bekerja itu adalah ibadah, dan membantu orang lain itu menyenangkan.
Jadikan pekerjaan membantu orang lain itu sesuatu yang menyenangkan.
Memang akan sangat menyakitkan kalau kita kemudian teringat dengan besaran gaji yang didapat oleh tenaga administrasi dibandingkan dengan pekerja lain yang di-support oleh administrator.
Akan tetapi bukankah bekerja itu adalah ibadah?
Dan bukankah jika kita berbuat baik pada orang lain, kita akan mendapatkan balasannya, walaupun tidak selalu dalam bentuk gaji yang besar atau uang tunai yang segepok.
Yang kita dapat bisa berupa respek, persahabatan, pertemanan, kasih sayang dan juga cinta.
Sunday, September 21, 2014
SERIAL MANAJEMEN - NEPOTISME
Saya menyebutnya si bandot, walaupun orang lain menyebut dia si demplon atau si bohay..
Oke,
Kemudian saya mempunyai celotehan tersendiri yang tercipta karena penampakan, visualisasi dirinya..
Cuman pantatnya doang yang gede, otaknya kagak..
Dia orang HRD, bapaknya dulu salah seorang yang cukup penting di kantor ini.
Kemudian seiring dengan adanya transformasi di perusahaan, bapaknya tersingkir, atau mungkin lebih tepatnya disingkirkan oleh orde terbaru yang memegang tampuk di jajaran direksi.
Nepotisme, yang saya berikan konotasi dengan sederhana, bahwa seseorang bisa bekerja di suatu tempat karena pengaruh kekerabatan.
Otomatis si bandot tadi bisa masuk kerja di perusahaan ini karena unsur nepotisme.
Karena waktu itu bapaknya masih cukup punya pengaruh disini, apalagi waktu itu orang petinggi HR nya sama sama orang yang sama suku bangsanya kayak bokapnya si bandot ini.
Urusan kompetensi jadi urutan yang ke-sembilan mungkin.
Yang penting adalah saling bantu membantu dan menolong sesama karyawan yang sudah tua, yang mulai sakit sakitan, sementara dia masih punya tanggungan.
Nepotisme di dalam suatu perusahaan itu tidak apa apa, asalkan ada pertimbangan lain yang juga harus diperhatikan. Yaitu kompetensi.
Mungkin bisa jadi nepotisme adalah salah satu sarana bagi perusahaan untuk menjaring calon karyawan yang berprestasi dengan track record yang bisa dipercaya.
Akan tetapi kalau nepotisme hanya berdasarkan rasa belas kasihan, maka nanti yang akan kasihan adalah perusahaan itu sendiri.
Wednesday, September 10, 2014
SERIAL MANAJEMEN – MENYURUH BAWAHAN
Saya mau membuat tulisan tentang manajemen.
Tentunya bukan tulisan tentang manajemen yang terlalu serius dan tingkat tinggi, saya takut nantinya dikirain nyaingin Philip Kottler ataupun Tantri Abeng.
Saya hanya akan menuliskan hal hal yang saya alami dalam saya bekerja, yang bisa jadi berhubungan dengan ilmu manajemen.
Dan kayaknya nantinya malah bakalan banyak berisi sumpah serapah saya tentang pekerjaan yang sucks, yang membosankan, karyawan, teman kerja atau bawahan yang bego ataupun pak atasan yang pekok.
Akan tetapi semoga saja nantinya saya akan mampu menampilkan atau mengambilkan hikmah dari kejadian di dalam pekerjaan saya jika dilihat dari kacamata ilmu manajemen, sehingga nantinya akan bisa bermanfaat.
Oke ayo langsung saya mulai..
Jika kita mempunyai anak buah, maka kita bisa memanfaatkan anak buah kita untuk membantu kita mencapai tujuan yang kita ingin capai.
Dan memang itu gunanya anak buah atau bawahan.
Bawahan yang dimaksud disini bukan rok ataupun span atau pakaian bagian bawah yaa..
Akan tetapi bagaimana cara kita bisa memanfaatkan tenaga dari anak buah kita, itu ada cara caranya. Cara atau seni menyuruh orang lain untuk mengerjakan apa yang kita mau.
Pertama kita harus tahu terlebih dahulu anak buah kita itu seperti apa.
Satu yang harus diingat, dan quote ini dulu juga sudah pernah saya posting, dan inilah yang menjadi point dari serial manajemen kali ini
Semakin rendah tingkat intelegensi seseorang, semakin harus lengkap dan komplit kita memberikan perintah atau instruksi untuk dia untuk mengerjakan apa yang kita perintahkan.
Karena kalau kita memberikan perintah atau instruksi secara general atau menyeluruh, maka bawahan kita kadang tidak tau atau bahkan kadang pura pura tidak tau, jadinya mereka mengerjakan apa apa yang kita jelaskan secara general saja.
Jadi intinya adalah, kita harus menjelaskan secara terperinci langkah langkah-nya, secara detail pekerjaan yang harus dilakukan oleh anak buah kita.
Kalau perlu dituliskan di kertas.
Kalau kita memberikan instruksi secara mendetail, memang kita keliatan kayak orang bego,
alaaah gitu aja kok ya dijelasin secara rinci bangeeet..
Lebih baik kita kelihatan seperti orang bego, tapi tujuan kita tercapai.
Daripada keliatan tidak bego, tapi nantinya malah pekerjaan pada gak kelar.
Dan kadangkala anak buah kita atau bawahan kita juga bakalan agak kesel kalau dikasih pekerjaan yang mendetail seperti itu, karena yang mereka lihat adalah jumlah step step atau langkah langkah pekerjaannya. Padahal sebenarnya kerjasanya tidak terlalu banyak, dan sebenarnya adalah cuman masalah manajemen pengaturan skala prioritas.
Dengan kita buat perincian kerjaan yang detail maka kita bisa menentukan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, dan mana yang bisa dibelakangkan.
Kita yang menentukan tujuan yang akan dicapai, bukan bawahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- 21inchs
- Saya lahir di kota suci di jalur pantura, kota kretek, kota Kudus. Lahir dan besar disana, kemudian menuntut ilmu di malang dan kemudian numpang tinggal di Depok, kota pinggiran Jakarta, dan mencari nafkah di Depok dan Jakarta ibukota Indonesia