Wednesday, September 10, 2014

SERIAL MANAJEMEN – MENYURUH BAWAHAN



Saya mau membuat tulisan tentang manajemen.
Tentunya bukan tulisan tentang manajemen yang terlalu serius dan tingkat tinggi, saya takut nantinya dikirain nyaingin Philip Kottler ataupun Tantri Abeng.

Saya hanya akan menuliskan hal hal yang saya alami dalam saya bekerja, yang bisa jadi berhubungan dengan ilmu manajemen. 
Dan kayaknya nantinya malah bakalan banyak berisi sumpah serapah saya tentang pekerjaan yang sucks, yang membosankan, karyawan, teman kerja atau bawahan yang bego ataupun pak atasan yang pekok.
Akan tetapi semoga saja nantinya saya akan mampu menampilkan atau mengambilkan hikmah dari kejadian di dalam pekerjaan saya jika dilihat dari kacamata ilmu manajemen, sehingga nantinya akan bisa bermanfaat. 
Oke ayo langsung saya mulai..

Jika kita mempunyai anak buah, maka kita bisa memanfaatkan anak buah kita untuk membantu kita mencapai tujuan yang kita ingin capai.
Dan memang itu gunanya anak buah atau bawahan.
Bawahan yang dimaksud disini bukan rok ataupun span atau pakaian bagian bawah yaa..
Akan tetapi bagaimana cara kita bisa memanfaatkan tenaga dari anak buah kita, itu ada cara caranya. Cara atau seni menyuruh orang lain untuk mengerjakan apa yang kita mau.
Pertama kita harus tahu terlebih dahulu anak buah kita itu seperti apa.
Satu yang harus diingat, dan quote ini dulu juga sudah pernah saya posting, dan inilah yang menjadi point dari serial manajemen kali ini
Semakin rendah tingkat intelegensi seseorang, semakin harus lengkap dan komplit kita memberikan perintah atau instruksi untuk dia untuk mengerjakan apa yang kita perintahkan. 
Karena kalau kita memberikan perintah atau instruksi secara general atau menyeluruh, maka bawahan kita kadang tidak tau atau bahkan kadang pura pura tidak tau, jadinya mereka mengerjakan apa apa yang kita jelaskan secara general saja.
Jadi intinya adalah, kita harus menjelaskan secara terperinci langkah langkah-nya, secara detail pekerjaan yang harus dilakukan oleh anak buah kita. 
Kalau perlu dituliskan di kertas.

Kalau kita memberikan instruksi secara mendetail, memang kita keliatan kayak orang bego, 
alaaah gitu aja kok ya dijelasin secara rinci bangeeet..
Lebih baik kita kelihatan seperti orang bego, tapi tujuan kita tercapai.
Daripada keliatan tidak bego, tapi nantinya malah pekerjaan pada gak kelar.

Dan kadangkala anak buah kita atau bawahan kita juga bakalan agak kesel kalau dikasih pekerjaan yang mendetail seperti itu, karena yang mereka lihat adalah jumlah step step atau langkah langkah pekerjaannya. Padahal sebenarnya kerjasanya tidak terlalu banyak, dan sebenarnya adalah cuman masalah manajemen pengaturan skala prioritas.
Dengan kita buat perincian kerjaan yang detail maka kita bisa menentukan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, dan mana yang bisa dibelakangkan.
Kita yang menentukan tujuan yang akan dicapai, bukan bawahan.

20 comments:

zach flazz said...

kalo buat saya nggak ada bawahan deh, semua mitra. jadi istilah nyuruh nggak ada yang ada minta tolong, hehe

21inchs said...

wah bagus sekali pak zachflazz ini, memanusiakan manusia.

akan tetapi saya menyebut bawahan dan juga menyuruh juga cuman buat memudahkan pengertian atau penyampaian materi saja pak..

kadang kalau kita memaksakan pemakaian bahasa yg sangat halus malah kurang bisa dipahami maksudnya..

terima kasih pak zachflazz atas masukannya yg sangat berharga ini dan juga atas kunjungannya yg sangat luar biasa ini..

Ciput Mardianto said...

Sedikit share dari teman : Menaikkan motivasi karyawan atau staff : Cukup beri mereka lingkungan kerja yang kondusif, tugas yang jelas dan terarah serta atasan yg mengerti bawahan, bukan sebagai boss tapi sebagai leader..

21inchs said...

terima kasih atas masukannya,

bagaimana caranya memberikan tugas yg jelas dan terarah sdh saya jelaskan di postingan ini..

apakah bawahan juga mengerti tanggung jawab dan juga beban atasannya?

Duniaely said...

lagi curhat ya inchs

21inchs said...

bukan curhat mbak..

mencoba menulis postingan yg agak bermutu, ya emang salah satu ide-nya sih dari curhatan perihal pekerjaan yg ternyata bisa diambil hikmahnya dan disambung sambungkan dgn ilmu manajemen..

Dunia Ely said...

memang postingan sebelumnya ngga bermutu?

ronal said...

kudu pinter liat pola kerja orang..soalnya setiap bawahan atau orang beda2..ada yang nalarnya cepat, dan ada juga lemot dan harus kasih penjelasan detail. dan ada juga yg kesal kalo dijelasin detail, krn merasa dianggap bodoh wkwkwk

21inchs said...

ely
postingan sebelum2 sih kadang kurang bermutu mbak, meaningless, cuman cengengas cengenges aja,
saya kepinginnya bisa membuat postingan yg bisa mempunyai makna atau bisa meng-encourage orang lain utk do something better
(sumpah ini lagi sok2an basa inggris ini)..

ronal
nah itu dia nal.
kadang krn terlalu sibuk kita gak sempat melakukan identifikasi dan mengenali tipe orang yg kita berkerjasama dgn-nya dan asal main perintah (minta tolong), jadinya terjadilah something yg tdk kita inginkan..

eksak said...

tanzi bukan tantri!

atasan dan bawahan itu cuma sebutan dan kedudukan. kalo udah dijemur di padang mahsyar tetep sama2 kering, kok ... :)

21inchs said...

wong sing dibahas manajemen, kok malah njawabe masalah padang mahsyar..

kamu berarti gak baca postingan saya sak..

STOBERI RAME RASANYA said...

ya mesti pinter pinter mengarahkan bawahan

al kahfi said...

maaf mas,,btw instansi tpt mas bekerja di bidang apa tuh...hehe kunjungan perdana nih setelah sekian lama

Idah Ceris said...

Ada kalanya kita harus manut dengan waktu. Supaya pekerjaan tang menjadi kewajiban bisa terdelesaikan dengan tepat yo, Mas.

Nggawe jadwal lagi, kayak pas masih sekolah. Ben menejemene rada baik. :)

21inchs said...

stoberi
iya betul..

al kahfi
di bidang fabrikasi baja mas..
selamat datang..

idah
terima kasih masukannya, walaupun sedikit tidak menyambung dgn apa yg saya tulis di atas..

Anisayu Nastutik said...

Minta tolong tapi berkesan
Karena artinya sopan

:)

Anisayu Nastutik said...

Bawahan atau atasan
untuk menggapai harapan
anggap semua kawan
pasti lancar sampai keinginan

21inchs said...

anisayu
iya betul..
iya betul..

eksak said...

wah, ngarani! yo gue baca to ya ... makanya bisa ngebenerin dari tantri ke tanzi. lagian maksud gue kan gak masalah posisi di dunia, kalo dah di mahsyar lak yo podho ae .,. huhuhu

21inchs said...

makasi ya sak udah baca,

iya saya salah, bukan tantri, tapi tanri, bukan pula tanzi..

iya betul kamu sak,
tapi tentunya kamu juga bisa memahami yg saya bahas di atas bukan masalah posisi manusia di dunia ataupun di dlm organisasi perusahaan, tetapi bagaimana memaksimalkan komunikasi antar posisi tsb shg bisa tercapai tujuan organisasi..

About Me

My photo
Saya lahir di kota suci di jalur pantura, kota kretek, kota Kudus. Lahir dan besar disana, kemudian menuntut ilmu di malang dan kemudian numpang tinggal di Depok, kota pinggiran Jakarta, dan mencari nafkah di Depok dan Jakarta ibukota Indonesia