Tuesday, December 2, 2014

MENYIASATI PEKERJAAN ADMINISTRASI YANG TIDAK PERNAH USAI



Administrative work is never ending proces.
Pekerjaaan administrasi itu tidak ada akhirnya, tidak akan pernah berakhir.
It’s true.

Apakah kamu pikir kalau kamu sudah support pak atasan, mengerjakan laporan ini itu ini itu dan sudah selesai semuanya, kemudian kamu tidak ada pekerjaan lagi yang harus diselesaikan?
Sama sekali tidak.
Karena ketika kamu mengerjakan laporan ini itu ini itu, kamu pasti menomorduakan pekerjaan yang lain dan pekerjaan yang lainnya lagi.
Ketika laporan ini itu ini itu sudah selesai, kemudian bermunculanlah pekerjaan-pekerjaan yang kemarin kamu nomor dua-kan, yang kamu pending atau tunda pengerjaannya.
Dan ketika pekerjaan yang kemarin tertunda sudah selesai dikerjakan, apakah berarti juga sudah selesai semua pekerjaan?
Tidak juga.
Karena bakalan ada pembuatan laporan yang lain.

Dan bahkan ketika tempat kamu kerja mau bangkrut mau gulung tikar mau tutup, justru malah pekerjaan administratif menjadi semakin banyak dan bejibun.
Mulai dari urusan surat menyurat dengan klien, dengan vendor. 
Penyiapan laporan keuangan, laporan asset dan lain-lain.
Pekerjaan administratif akan benar-benar berakhir ketika kamu – sebagai administrator atau tenaga administrasi – keluar dari pekerjaan itu, mengundurkan diri, resign, atau kamu meninggal dunia.

Terus bagaimana caranya menyikapi pekerjaaan administrasi yang tak ada habisnya itu?
Caranya adalah dengan membuat skala prioritas, mana pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan mana yang bisa dinomor dua-kan.
Minimal membuat 5 poin skala prioritas dan harus konsisten serta patuh dengan skala prioritas tersebut.

Memang akan terasa sangat menjemukan, karena dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya adalah melakukan hal yang relatif sama.
Untuk mengatasi rasa kejemuan dan kejenuhan tersebut, diperlukan manajemen hati untuk mengelola perasaan jemu, jenuh dan bosan itu menjadi sesuatu yang tidak lagi terasa membosankan, atau minimal meng-eufemisme-kan kebosanan, mengganti kata kebosanan dengan kata yang lebih manis lainnya.
Bukankah bekerja itu adalah ibadah, dan membantu orang lain itu menyenangkan.
Jadikan pekerjaan membantu orang lain itu sesuatu yang menyenangkan.

Memang akan sangat menyakitkan kalau kita kemudian teringat dengan besaran gaji yang didapat oleh tenaga administrasi dibandingkan dengan pekerja lain yang di-support oleh administrator.
Akan tetapi bukankah bekerja itu adalah ibadah?
Dan bukankah jika kita berbuat baik pada orang lain, kita akan mendapatkan balasannya, walaupun tidak selalu dalam bentuk gaji yang besar atau uang tunai yang segepok.
Yang kita dapat bisa berupa respek, persahabatan, pertemanan, kasih sayang dan juga cinta.

16 comments:

Idah Ceris said...

Terus brpikiran dan brsikap positif dengan suatu pkerjaan ya, Mas.

21inchs said...


Iya betul sekali, akan tetapi jangan sampai hanya merasa nyaman dan berhenti disitu saja.
Harus selalu utk berupaya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi..

eksak said...

coba ngiklas aja dah kerja mah, kalem we Dab, rejeki gak bakal ketuker. yg sering ketuker mah sandal! :)

21inchs said...


Iya betul sekali, harus tulus ikhlas dan akan tetapi jangan sampai hanya merasa nyaman dan berhenti disitu saja.
Harus selalu utk berupaya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi..

sandal sama pulpen sak..

Dunia Ely said...

Klau pekerjaan usai yo dadi ngganggur tho Inchs? :D

21inchs said...


iya sih, tapi maksud saya bukan seperti itu mbak..

eksak said...

kalo pulpen malah sering ilang gak balik! bhahaha

21inchs said...


iyak betul, kalau pulpen malah sering ilang..

eksak said...

endi postingan anyarmu, Dab?

21inchs said...


durung ono sak, durung tak tulis..
ide-ne sih akeh cumak durung sempat tak implementasikan dlm bentuk tulisan narasi..

Vicky Laurentina said...

Menurut saya, pekerjaan administrator itu tulang punggungnya perusahaan.

Baru-baru ini saya memutuskan untuk memboikot sebuah perusahaan gara-gara administrasinya nggak bisa membereskan urusan account saya dalam tempo kurang dari 1 bulan. Padahal kompetitor-kompetitornya perusahaan itu bisa melakukannya hanya dalam tempo kurang dari 2 minggu saja.

21inchs said...


sebenarnya fungsinya adalah sebagai support saja, seperti tulang rawan di dalam tulang punggung :), tanpa administrator pekerjaan utama memang bisa tetap berjalan, tetapi bakalan porak poranda di semua bagian yg lain..
kerjaannya remeh temeh dan gak dianggep tapi sebenarnya sangat penting..

ajiewp said...

kalo usai yah !! berenti kerja donk mas hehehe

21inchs said...


hahahaa..
iya juga ya..
tapi kan kamsud saya bukan seperti itu..

hlga said...

dulu pertama kali kerja pernah kebagian di bag. administras sejenis ini cuma mungkin yang saya kerjain cuma bikin report harian mingguan bulanan bla bla bla..

dan emang dibutuhin prioritas laoran mana yang harus dikerjakan lebih dulu.

tapi kalo saya sih kerjanya abis ngerjain report sampe selesei dijamin abis itu bakal bisa nyantai.

tinggal dinikmati dan disyukuri aja hehehe

21inchs said...


ih pinter banget deh..

mungkin bisa jadi kl hanya paperwork an-sich bisa seperti itu, akan tetapi kalau kita harus assist pak atasan dan juga ikutan menjadi think tank-nya suka kelabakan dlm mentaati skala prioritas yg sdh kita bikin..

About Me

My photo
Saya lahir di kota suci di jalur pantura, kota kretek, kota Kudus. Lahir dan besar disana, kemudian menuntut ilmu di malang dan kemudian numpang tinggal di Depok, kota pinggiran Jakarta, dan mencari nafkah di Depok dan Jakarta ibukota Indonesia